Warta Kebahagiaan

Dirgahayu Indonesiaku!

Dirgahayu Indonesiaku!

Dirgahayu, negara dan bangsaku! Engkau anugerah yang maha indah dari Allah, didiklah kami dengan bahasa alammu, karena di situ kehendak Allah diwartakan melewati kekuatan pukauan keindahan alam panorama terbaik di muka bumi. Kami akan sungguh merdeka ketika selalu hormat menjaga dan melaksanakan ketetapan dasar perundang-undangan bangsa, berani menampilkan jati diri budaya, yang lahir di tiap pikir, juga tutur kata, dan menjaga kelestarian, kemegahan, alam kekayaanmu.

Dirgahayu, negara dan bangsaku! Merdeka tanpa syarat, karena sungguh merdeka!

Guratan Baru

Galuh Arjuna Indra Putra Dalam suara bariton bersahaja merendah, Sugeng Waluya menyampaikan kalimat bahasa hatinya, “Galuh, sudah banyak komposisi yang kugubah dibawakan beberapa orang, yang kini terkenal dan banyak dipuja penggemarnya. Jangan kamu sangka aku tengah berlimpah uang sekarang, meskipun di tiap pentas, para penyanyi tadi mendapat upah nafkah yang berlimpah. Sedemikian pula record label yang membuat album musik bagi mereka. Aku merasa sedih, bukan hanya intelectual rights-ku yang dilanggar, mechanical rights-ku pun tidak dibayarkan. Tetapi yang pokok adalah, martabat kesenimananku dikoyak dan dihinakan, seolah karya cipta Allah, yang membuat kemampuan dalam diriku, sama sekali tidak dihormat.
Galuh Arjuna Indra Putra Bertiga kami berbincang, di beranda, suara bahasa jiwa berkumandang, tanda bergeraknya relung hati kami, melahirkan makna hidup bakti. Suara Kenya Maryati Dewi sebagai panah Srikandi, meluncur tajam, menancapkan makna cinta budaya, menggugah aku – Arjuna, menerbangkan pasopati, dalam ribuan sandhi yudha kemasan, eloknya budaya diseni-tampilkan. Sugeng Waluya jadi manggala, menata larik pertahanan barisan syukur doa, pada tiap kalimat liris prosa, yang akan menempati jaringan warta budaya, di dunia informatika. Jaringan warta budaya itu adalah wujud persembahan patuh mengabdi kepada Tuhan, hormat mengangkat nilai budaya Jawa, dan bernama Jogja Penatah Cinta.
Galuh Arjuna Indra Putra Aku lihat daun-daun gugur berputaran melayang, melenggang sebelum jatuh, juga seakan hati-hati menapakkan kekuningan helainya, di atas hijau rerumputan jepang. Pada gerak putaran layang dedaunan tadi, wajah teduh kekasihku tersenyum sejuk bersama keteduhan pagi. Cantik parasnya, sakral wangi harum tubuhnya, hangat halus kuning langsat juntaian tangannya memeluk rasa rindu di dalam dadaku, seirama sinar matahari pagi mendandani gerak angin sepoi, di beranda rumah eyang termenung aku sendiri. Kakiku menapaki tua ubin dengan motif mawar gotik putih-merah-emas, membuat gemas ingatanku akan Widhi Puteri Sasmita, gadis cantik pengikat hatiku, yang elok bagai pusaka trisula emas.
Galuh Arjuna Indra Putra Aku – Galuh Arjuna Indra Putra, dan Palguna keponakanku, menjelang pagi ini, diperkenankan menjadi Permadi, yang sedang mengadakan perjalanan perenungan batin Arya Bimasena, mencari jati dirinya di samudera kehidupan. Dalam pencarian itu, Arya Bimasena akhirnya bertemu dengan Dewa Ruci, sang sejati dirinya sendiri, serta menuai tirta perwitasari. Sesungguhnya, apa yang dilakukan Arya Bimasena adalah sedang mengikuti laku si sulung Pandawa, Yudhistira kakaknya. Karena pada Yudhistira, kekhawatiran dan juga cinta diri sudah mati, maka tirta perwitasari – sang air kehidupan, sesungguhnya adalah dirinya sendiri, ditandai dengan darahnya yang putih dan harum wangi.
Galuh Arjuna Indra Putra Winata Kajengan adalah karya nyata misteri Sang Ilahi yang mewujud di bumi, sebagaimana pula Sugeng Waluya, Jaka Satria Sriwedari, Kenya Maryati Dewi, Warta Pamarta, Palguna, dan Basuki Raharja si penjaja makanan angkringan. Mereka semua memasuki ranah batin kehidupanku sebagai putera sulung Indra, si Janaka abdi Sang Cinta, Galuh Arjuna Indra Putra, raja pembunuh naga, murid setia Sugeng Waluya.
Galuh Arjuna Indra Putra Winata Kajengan nama orang itu, dialah pemahat kayu. Lewat gerak tangannya, daya hatinya menatah rupa kayu menjadi karya seni, dalam bentuk ukiran meja kursi, sampai relief cerita wayang di gebyog pemisah ruang tamu dengan ruang keluarga di rumah Eyang. Sebagai musisi yang merasa sudah tenar, aku remehkan dia, karena pekerjaannya sudah ketinggalan jaman. Aku ingat waktu itu, Winata Kajengan tetap tenang mendengar cemoohanku, seakan ledekanku jadi pupuk, menyuburkan senyum hatinya menatah kayu. Aku beranggapan, pekerjaan menekuni seni kayu tidak bisa merangkul banyak duit, dan pasti untungnya sedikit.
Tidak ada guratan ditemukan.